ELEKTRO EDU
Learning Platform

ELEKTRO EDU

Platform pembelajaran modern Elektronika Dasar. Temukan cara baru yang interaktif dan menyenangkan untuk belajar.

Materi Pembelajaran

Bab 1
Komponen Elektronika Pasif
ResistorKapasitorInduktor
Pelajari komponen yang tidak memerlukan sumber energi tambahan dan cara kerjanya dalam rangkaian.
Mulai Belajar
Bab 2
Komponen Elektronika Aktif
DiodaTransistorIC
Pelajari komponen yang memerlukan sumber tegangan dan mampu menguatkan sinyal listrik.
Mulai Belajar
Bab 3
Hukum Elektronika Dasar
Hukum OhmKCLKVL
Pelajari hukum-hukum dasar yang digunakan untuk menganalisis besaran listrik dalam rangkaian.
Mulai Belajar

Komponen Elektronika Pasif

Fitur Materi Komponen Pasif
A. Pengertian Komponen Elektronika Pasif
Mata Pelajaran: Elektronika Dasar (SMK) · Elemen CP: Dasar-dasar Elektronika

Komponen elektronika pasif adalah komponen dalam rangkaian listrik atau elektronika yang tidak memerlukan sumber energi tambahan untuk beroperasi dan tidak memiliki kemampuan untuk memperkuat sinyal listrik. Komponen ini hanya dapat menerima, mengatur, menyimpan, atau melepaskan energi listrik yang diterimanya dari sumber daya utama. Dengan kata lain, komponen pasif tidak menghasilkan energi, melainkan mengelola energi yang sudah ada di dalam sistem.

Dalam suatu rangkaian elektronika, komponen pasif memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kestabilan kerja sistem. Tanpa komponen pasif, arus listrik dapat mengalir secara tidak terkendali sehingga berpotensi merusak komponen lain. Selain itu, komponen pasif juga berfungsi untuk membentuk karakteristik tertentu dalam rangkaian, seperti: menentukan besar kecilnya arus, menstabilkan tegangan, menyaring frekuensi tertentu, serta menyimpan energi sementara waktu. Oleh karena itu, meskipun disebut "pasif", perannya sangat fundamental dalam perancangan dan pengoperasian rangkaian elektronika.

Secara umum, komponen elektronika pasif terdiri dari resistor, kapasitor, dan induktor. Ketiga komponen ini sering disebut sebagai komponen dasar dalam elektronika karena hampir selalu ditemukan dalam berbagai jenis rangkaian, baik rangkaian sederhana maupun rangkaian kompleks seperti sistem kontrol dan perangkat elektronika daya.

1. Resistor

Resistor merupakan komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk menghambat atau membatasi arus listrik yang mengalir dalam suatu rangkaian. Prinsip kerja resistor didasarkan pada hukum Ohm yang menyatakan bahwa besar arus yang mengalir dalam suatu rangkaian berbanding lurus dengan tegangan dan berbanding terbalik dengan hambatan. Dengan adanya resistor, arus listrik dapat dikendalikan agar sesuai dengan kebutuhan komponen lain yang lebih sensitif. Selain sebagai pembatas arus, resistor juga digunakan sebagai pembagi tegangan dalam rangkaian pembagi tegangan.

Gambar 1: Simbol Resistor

Gambar 1: Simbol Resistor

Dalam aplikasi tertentu, resistor berfungsi sebagai pull-up dan pull-down pada rangkaian digital, serta sebagai pengatur bias pada transistor dan IC. Karakteristik utama dari resistor adalah resistansinya dan daya listrik yang dapat dihantarkan. Karakteristik lain termasuk koefisien suhu, derau listrik (noise), dan induktansi. Nilai hambatan resistor dinyatakan dalam satuan Ohm (Ω), dan biasanya ditunjukkan melalui kode warna yang terdapat pada badan resistor. Dilihat dari fungsinya resistor dapat dibagi menjadi beberapa jenis seperti di bawah ini.

A. Resistor Tetap

Resistor tetap merupakan resistor yang mempunyai nilai hambatan tetap. Biasanya terbuat dari karbon, kawat atau paduan logam. Pada resistor tetap nilai resistansi biasanya ditentukan dengan kode warna resistor.

Tabel 1 – Jenis-Jenis Resistor Tetap
No Jenis Keterangan Gambar
a Resistor Kawat Jenis resistor generasi pertama yang lahir pada saat rangkaian elektronika masih menggunakan tabung hampa (vacuum tube). Resistor kawat dibuat dari kawat resistif yang dililitkan pada inti keramik atau porselen, kemudian dilapisi dengan bahan isolator. Resistor ini mampu menangani daya yang cukup besar dan tahan terhadap suhu tinggi.
Resistor Kawat
Resistor Kawat
b Resistor Batang Karbon (Arang) Dibuat dari bahan karbon kasar yang diberi lilitan kawat, kemudian diberi tanda dengan kode warna berbentuk gelang dan pembacaannya dapat dilihat pada tabel kode warna. Resistor karbon merupakan jenis yang paling umum digunakan pada rangkaian elektronika umum karena harganya yang murah.
Resistor Batang Karbon
Resistor Batang Karbon
c Resistor Keramik / Porselin Terbuat dari keramik yang dilapisi dengan kaca tipis. Jenis resistor ini telah banyak digunakan dalam rangkaian elektronika saat ini karena bentuk fisiknya kecil dan memiliki resistansi yang tinggi. Resistor ini memiliki rating daya sebesar ¼ watt, ½ watt, 1 watt, dan 2 watt.
Resistor Keramik
Resistor Keramik
d Resistor Film Karbon Dibuat dari bahan karbon dan dilapisi dengan bahan film sebagai pelindung terhadap pengaruh luar. Nilai resistansinya dicantumkan dalam kode warna. Resistor ini juga sudah banyak digunakan dalam berbagai rangkaian elektronika karena bentuk fisiknya kecil dan memiliki resistansi yang tinggi. Namun, untuk masalah ukuran fisik resistor ini masih kalah jika dibandingkan dengan resistor keramik. Resistor ini memiliki rating daya sebesar ¼ watt, ½ watt, 1 watt, dan 2 watt.
Resistor Film Karbon
Resistor Film Karbon
e Resistor Film Metal Dibuat dengan bentuk hampir menyerupai resistor film karbon. Resistor ini memiliki tingkat kepresisian yang tinggi karena nilai toleransi yang tercantum sangat kecil, biasanya 1% atau 5%. Resistor film metal memiliki 5 buah gelang warna, bahkan ada yang 6 buah gelang warna. Biasanya digunakan pada rangkaian yang membutuhkan keakuratan tinggi.
Resistor Film Metal
Resistor Film Metal
B. Resistor Variabel

Resistor variabel (variable resistor atau varistor) adalah resistor yang nilai tahanannya dapat berubah atau dapat diubah. Ada bermacam-macam resistor variabel antara lain:

Tabel 2 – Jenis-Jenis Resistor Variabel
No Jenis Keterangan Gambar
a Potensiometer Resistor tiga terminal yang nilai tahanannya dapat diubah dengan cara menggeser (untuk potensio jenis geser) atau memutar (untuk potensio jenis putar) tuasnya. Potensiometer banyak digunakan sebagai pengatur volume pada perangkat audio, pengatur kecepatan motor, dan berbagai aplikasi kontrol lainnya.
Potensiometer
Potensiometer
b Trimpot Potensiometer yang cara mengubah nilai tahanannya dengan cara mentrim menggunakan obeng trim. Trimpot biasanya dipasang di dalam rangkaian untuk melakukan kalibrasi atau penyetelan sekali waktu yang tidak perlu diubah secara sering. Ukurannya lebih kecil dari potensiometer biasa.
Trimpot
Trimpot
c PTC (Positive Temperature Control) Termasuk jenis thermistor, yaitu resistor yang nilai tahanannya dipengaruhi oleh suhu. Nilai hambatan PTC saat dingin adalah sangat rendah, tetapi saat suhu PTC naik maka nilai hambatannya juga ikut naik. PTC digunakan sebagai proteksi arus lebih dan sebagai sensor suhu.
PTC Thermistor
PTC Thermistor
d NTC (Negative Temperature Control) Termasuk jenis thermistor, kebalikan dari PTC. Nilai tahanan NTC saat dingin sangat tinggi, tetapi saat suhu NTC semakin naik maka nilai tahanannya akan semakin mengecil bahkan nol. NTC banyak digunakan sebagai sensor suhu pada termometer digital, inkubator, dan sistem kontrol suhu.
NTC Thermistor
NTC Thermistor
e LDR (Light Dependent Resistor) Resistor yang peka terhadap cahaya atau biasa disebut fotoresistor, dimana nilai resistansinya akan menurun jika ada penambahan intensitas cahaya yang mengenainya. Saat gelap, nilai resistansinya sangat tinggi (jutaan ohm), sedangkan saat terang nilai resistansinya sangat rendah. Banyak digunakan pada lampu otomatis, sensor cahaya, dan alarm.
LDR (Fotoresistor)
LDR (Fotoresistor)
C. Kode Warna Resistor

Penentuan nilai resistor dapat dilakukan dengan membaca kode warna yang tertera pada badan resistor. Kode warna tersebut menunjukkan besar hambatan dalam satuan Ohm (Ω) berdasarkan standar internasional. Pada umumnya, resistor memiliki empat atau lima gelang warna. Pada resistor dengan empat gelang: dua gelang pertama menunjukkan angka signifikan, gelang ketiga berfungsi sebagai faktor pengali, dan gelang keempat menunjukkan nilai toleransi. Pembacaan kode warna dilakukan dari sisi gelang yang posisinya lebih dekat ke ujung resistor atau dari sisi yang memiliki jarak gelang lebih rapat.

Gambar 2: Diagram Kode Warna Resistor

Gambar 2: Diagram Menghitung Resistor

Setiap warna memiliki representasi angka tertentu, yaitu hitam bernilai 0, cokelat 1, merah 2, oranye 3, kuning 4, hijau 5, biru 6, ungu 7, abu-abu 8, dan putih 9. Gelang pengali menunjukkan faktor kelipatan dalam bentuk pangkat sepuluh sesuai dengan nilai warna yang tertera. Adapun gelang toleransi umumnya ditunjukkan oleh warna emas dengan toleransi ±5%, perak ±10%, dan tanpa gelang toleransi sebesar ±20%.

Tabel Kode Warna Resistor
Jumlah Gelang:
Kalkulator Otomatis — Pilih Warna Setiap Gelang:
Nilai Resistor:
— Ω
Toleransi:
Contoh Pembacaan Kode Warna

Sebagai contoh, resistor dengan gelang warna Merah – Ungu – Cokelat – Emas memiliki nilai hambatan sebesar 27 × 10¹ atau 270 Ω dengan toleransi ±5% (emas). Gelang merah = 2, gelang ungu = 7, gelang cokelat = pengali ×10, dan gelang emas = toleransi ±5%.

Dengan demikian, pemahaman terhadap kode warna resistor sangat penting dalam kegiatan perakitan maupun analisis rangkaian elektronika, karena memungkinkan penentuan nilai hambatan secara cepat dan akurat tanpa memerlukan alat ukur tambahan.

2. Kapasitor (Kondensator)

Kondensator atau sering disebut sebagai kapasitor adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kondensator memiliki satuan yang disebut Farad dari nama Michael Faraday. Kondensator juga dikenal sebagai "kapasitor", namun kata "kondensator" masih dipakai hingga saat ini. Pertama disebut oleh Alessandro Volta seorang ilmuwan Italia pada tahun 1782 (dari Bahasa Italia condensatore), berkenaan dengan kemampuan alat untuk menyimpan suatu muatan listrik yang tinggi dibanding komponen lainnya.

Gambar: Kapasitor

Gambar: Simbol Kapasitor

Kapasitor adalah komponen elektronika pasif yang berfungsi untuk menyimpan muatan listrik dalam waktu tertentu. Kapasitor bekerja dengan menyimpan energi dalam bentuk medan listrik di antara dua pelat konduktor yang dipisahkan oleh bahan dielektrik. Dalam rangkaian elektronika, kapasitor digunakan untuk menyaring tegangan, menstabilkan arus, dan mengatur waktu kerja suatu sistem. Berikut macam kondensator berdasarkan kegunaannya:

A. Kapasitor Tetap

Kondensator tetap ialah suatu kondensator yang nilainya konstan dan tidak berubah-ubah (nilai kapasitasnya tetap tidak dapat diubah). Kondensator tetap ada beberapa macam bentuk.

Tabel 3 – Jenis-Jenis Kapasitor Tetap
No Jenis Keterangan Gambar
a Kapasitor Keramik
(Ceramic Capacitor)
Bentuknya ada yang bulat tipis, persegi empat warna merah, hijau, coklat dan lain-lain. Boleh dibolak-balik karena tidak mempunyai kaki positif dan negatif. Mempunyai kapasitas mulai dari beberapa piko Farad sampai ratusan KpF. Tegangan kerja maksimal 25 volt sampai 100 volt, bahkan ada yang sampai ribuan volt.
Kapasitor Keramik
Kapasitor Keramik
b Kapasitor Polyester Bentuknya persegi empat seperti permen. Biasanya mempunyai warna merah, hijau, coklat, dan sebagainya. Kapasitor polyester memiliki nilai kapasitansi yang stabil dan toleransi yang cukup baik. Tidak memiliki polaritas sehingga dapat dipasang bolak-balik. Digunakan pada rangkaian audio dan frekuensi rendah.
Kapasitor Polyester
Kapasitor Polyester
c Kapasitor Kertas Sering disebut juga kondensator padder. Misal pada radio dipasang seri dan spul osilator ke variabel kondensator. Kapasitor kertas menggunakan kertas sebagai bahan dielektrik yang digulung bersama dua lembar aluminium foil. Kapasitor ini sudah jarang digunakan pada rangkaian modern, tetapi masih ditemukan pada perangkat radio lama.
Kapasitor Kertas
Kapasitor Kertas
d Kapasitor Elektrolit (ELCO) Biasanya berbentuk tabung, mempunyai dua kutub kaki berpolaritas positif dan negatif. Kaki yang panjang = positif, yang pendek atau dekat tanda minus (−) = negatif. Nilai kapasitas: 0,47 µF sampai ribuan µF dengan voltase kerja dari beberapa volt hingga ribuan volt. Harus dipasang sesuai polaritas atau dapat meledak.
Kapasitor Elektrolit (ELCO)
Kapasitor Elektrolit (ELCO)
B. Kapasitor Tidak Tetap (Variable & Trimmer)

Kondensator variabel dan trimmer adalah jenis kondensator yang kapasitasnya bisa diubah-ubah. Kondensator ini dapat berubah kapasitasnya karena secara fisik mempunyai poros yang dapat diputar dengan menggunakan obeng.

Gambar: Kapasitor Variabel (Varco)

Gambar: Kapasitor Variabel (Varco)

Kondensator variable (Varco) terbuat dari logam, mempunyai kapasitas maksimum sekitar 100 pF (pikoFarad) sampai 500 pF (100pF = 0,0001µF). Kondensator variable dengan spul antena dan spul osilator berfungsi sebagai pemilih gelombang frekuensi tertentu yang akan ditangkap.

3. Induktor

Induktor merupakan komponen pasif yang berfungsi untuk menyimpan energi dalam bentuk medan magnet. Induktor bekerja dengan cara menahan perubahan arus yang mengalir di dalam rangkaian. Sifat ini membuat induktor sering digunakan sebagai filter dan penstabil arus, terutama pada rangkaian elektronika daya dan sistem switching.

Gambar 4: Kumparan Kawat Induktor

Gambar 4: Kumparan Kawat Induktor

Induktor adalah sebuah kawat penghantar yang dibentuk menjadi kumparan. Lilitan membantu membuat medan magnet yang kuat di dalam kumparan dikarenakan hukum induksi Faraday. Induktor adalah salah satu komponen elektronik dasar yang digunakan dalam rangkaian yang arus dan tegangannya berubah-ubah dikarenakan kemampuan induktor untuk memproses arus bolak-balik.

Komponen Elektronika Aktif

Fitur Materi Komponen Aktif
B. Pengertian Komponen Elektronika Aktif
Komponen yang memerlukan sumber tegangan dan mampu mengendalikan atau menguatkan sinyal listrik

Komponen elektronika aktif adalah komponen yang memerlukan sumber tegangan dan mampu mengendalikan atau menguatkan sinyal listrik. Berbeda dengan komponen pasif, komponen aktif dapat menghasilkan penguatan daya dan mengontrol aliran arus dalam rangkaian.

1. Dioda

Dioda merupakan komponen elektronika aktif yang berfungsi untuk mengalirkan arus listrik hanya dalam satu arah. Prinsip kerja dioda ini menjadikannya sangat penting dalam proses penyearahan arus, yaitu mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah. Ada beberapa macam rangkaian dioda, diantaranya: penyearah setengah gelombang (Half-Wave Rectifier), penyearah gelombang penuh (Full-Wave Rectifier), rangkaian penjepit (Clamper), rangkaian pemotong (Clipper), maupun pengganda tegangan (Voltage Multiplier).

Sisi positif (P) disebut Anoda dan sisi negatif (N) disebut Katoda. Lambang dioda seperti anak panah yang arahnya dari sisi P ke sisi N. Dioda terbagi atas beberapa jenis antara lain:

Tabel 4 – Jenis-Jenis Dioda
No Jenis Dioda Fungsi & Keterangan Gambar Komponen Gambar Simbol
a Dioda Zener Berfungsi sebagai penstabil tegangan. Dioda zener dirancang untuk beroperasi pada kondisi reverse bias (tegangan balik). Selain itu dioda zener juga dapat dipakai sebagai pembatas tegangan pada level tertentu untuk keamanan rangkaian. Memiliki tegangan zener (Vz) yang tetap meskipun arus berubah.
Dioda Zener
Dioda Zener
Simbol Dioda Zener
Simbol Dioda Zener
b Dioda Varactor Sebuah kapasitor yang kapasitansinya ditentukan oleh tegangan yang masuk. Dioda varactor bekerja pada reverse bias dengan memanfaatkan efek kapasitansi sambungan P-N. Contoh penerapannya pada pesawat TV, pesawat radio FM, pesawat telekomunikasi yang bekerja pada frekuensi tinggi untuk keperluan tuning frekuensi.
Dioda Varactor
Dioda Varactor
Simbol Dioda Varactor
Simbol Dioda Varactor
c LED (Dioda Pemancar Cahaya) Komponen yang dapat mengeluarkan emisi cahaya. LED memiliki struktur yang sama dengan dioda, tetapi ditemukan bahwa elektron yang menerjang sambungan P-N juga melepaskan energi panas dan energi cahaya. LED tersedia dalam berbagai warna: merah, hijau, biru, kuning, putih, dan inframerah. Digunakan sebagai indikator, lampu, dan display.
LED
LED
Simbol LED
Simbol LED
d Dioda Penyearah (1N4007) Komponen semikonduktor yang berfungsi mengubah arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC) dengan prinsip sambungan P–N yang hanya mengalirkan arus dari anoda ke katoda saat forward bias dan menahan arus saat reverse bias. Salah satu contoh yang umum digunakan adalah 1N4007, yang mampu menangani tegangan dan arus relatif besar sehingga banyak diaplikasikan pada rangkaian catu daya (power supply), baik dalam konfigurasi penyearah setengah gelombang maupun gelombang penuh.
Dioda Penyearah (1N4007)
Dioda Penyearah (1N4007)
Simbol Dioda Penyearah
Simbol Dioda Penyearah
2. Transistor

Transistor merupakan komponen aktif dalam rangkaian elektronika yang berfungsi sebagai penguat sinyal (amplifier) dan saklar elektronik (switch). Komponen ini memiliki kemampuan mengendalikan arus besar menggunakan arus atau tegangan yang relatif kecil, sehingga berperan penting dalam sistem penguatan, pengendalian, dan pemrosesan sinyal. Dalam aplikasi penguat, transistor meningkatkan amplitudo sinyal tanpa mengubah bentuk dasarnya secara signifikan. Sementara itu, dalam fungsi saklar, transistor bekerja pada dua kondisi utama: cut-off (tidak menghantar arus) dan saturasi (menghantar arus secara penuh).

Gambar 5: Simbol Transistor

Gambar 5: Simbol Transistor

Secara umum, transistor terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu Bipolar Junction Transistor (BJT) dan Field Effect Transistor (FET). BJT disebut sebagai transistor bipolar karena menggunakan dua jenis pembawa muatan, yaitu elektron dan hole. BJT memiliki tiga terminal, yaitu Basis (B), Kolektor (C), dan Emitor (E). Arus kecil yang masuk ke terminal basis akan mengendalikan arus yang lebih besar antara kolektor dan emitor. Berdasarkan susunan lapisan semikonduktornya, BJT dibedakan menjadi dua tipe, yaitu NPN dan PNP.

Gambar 6: Transistor NPN

Gambar 6: Transistor NPN

Contoh transistor BJT tipe NPN yang banyak digunakan dalam rangkaian sinyal kecil adalah BC547. Transistor ini umum diaplikasikan pada rangkaian penguat audio, driver relay, serta saklar elektronik berarus kecil. BC547 memiliki tiga kaki dengan urutan Kolektor, Basis, dan Emitor (dilihat dari sisi datar kemasan).

Gambar 7: Transistor PNP

Gambar 7: Transistor PNP

Pasangan tipe PNP yang setara dengan BC547 adalah BC557. Secara karakteristik listrik, BC557 memiliki spesifikasi yang hampir sama, namun arah arus dan polaritas tegangannya berlawanan. Pada transistor NPN seperti BC547, transistor akan aktif apabila tegangan basis lebih positif sekitar 0,7 V terhadap emitor. Sebaliknya, pada transistor PNP seperti BC557, transistor akan aktif apabila tegangan basis lebih rendah sekitar 0,7 V dibandingkan emitor. Dengan demikian, pada rangkaian, NPN umumnya digunakan sebagai saklar sisi negatif (low side switching), sedangkan PNP sering digunakan sebagai saklar sisi positif (high side switching).

Selain BJT, terdapat pula transistor jenis FET (Field Effect Transistor) yang bersifat unipolar karena hanya menggunakan satu jenis pembawa muatan. FET memiliki terminal Gate (G), Drain (D), dan Source (S), serta dikendalikan oleh tegangan pada gate sehingga memiliki impedansi input yang lebih tinggi dibandingkan BJT.

Jenis Terminal Keterangan Contoh
BJT NPN Basis (B), Kolektor (C), Emitor (E) Aktif saat VB > VE +0,7V. Low side switching. BC547
BJT PNP Basis (B), Kolektor (C), Emitor (E) Aktif saat VB < VE −0,7V. High side switching. BC557
FET Gate (G), Drain (D), Source (S) Unipolar. Dikendalikan tegangan gate. Impedansi input lebih tinggi dari BJT. MOSFET
3. Integrated Circuit (IC)

Integrated Circuit (IC) adalah komponen elektronika aktif yang terdiri atas gabungan berbagai komponen seperti transistor, resistor, kapasitor, dan dioda yang dirangkai serta dipadatkan dalam satu chip semikonduktor berukuran kecil. Seluruh komponen tersebut diintegrasikan ke dalam sebuah keping silikon sehingga mampu menjalankan fungsi rangkaian yang kompleks dalam bentuk yang ringkas dan efisien.

IC berfungsi sebagai pusat pengolahan, pengendali, maupun penguat sinyal dalam sistem elektronika, sehingga sering disebut sebagai "otak" dari suatu perangkat elektronik.

Gambar 8: Integrated Circuit (IC)

Gambar 8: Integrated Circuit (IC)

Berdasarkan fungsinya, IC dapat dibedakan menjadi IC analog, IC digital, dan IC campuran (mixed signal). IC analog digunakan untuk pengolahan sinyal kontinu seperti penguat operasional, contohnya LM741, sedangkan IC digital digunakan dalam sistem logika dan pemrosesan data biner seperti gerbang logika dan mikrokontroler, misalnya ATmega328 yang banyak digunakan pada papan Arduino.

Jenis IC Fungsi Contoh
IC Analog Pengolahan sinyal kontinu, penguat operasional LM741
IC Digital Sistem logika, pemrosesan data biner, gerbang logika, mikrokontroler ATmega328 (Arduino)
IC Mixed Signal Gabungan fungsi analog dan digital ADC/DAC Converter

Hukum Elektronika Dasar

Fitur Materi Hukum Elektronika
C. Pengantar Hukum Elektronika Dasar
Hukum Ohm · Hukum Kirchhoff I (KCL) · Hukum Kirchhoff II (KVL)

Hukum-hukum elektronika dasar merupakan landasan utama dalam menganalisis dan menghitung besaran listrik pada suatu rangkaian. Melalui pemahaman hukum-hukum ini, peserta didik dapat menentukan hubungan antara tegangan, arus, dan hambatan secara sistematis, sehingga mampu memecahkan permasalahan rangkaian baik yang sederhana maupun yang kompleks.

1. Hukum Ohm

Hukum Ohm menyatakan bahwa besar arus listrik yang mengalir dalam suatu penghantar sebanding dengan tegangan dan berbanding terbalik dengan hambatan. Hukum ini menjadi dasar utama dalam perhitungan elektronika karena menghubungkan tiga besaran penting, yaitu tegangan, arus, dan hambatan. Dalam penerapannya, Hukum Ohm digunakan untuk menentukan nilai arus atau hambatan yang aman agar rangkaian dapat bekerja dengan baik tanpa merusak komponen.

Gambar 9: Rumus Hukum Ohm

Gambar 9: Rumus Hukum Ohm

Hukum Ohm menjadi dasar utama dalam perhitungan elektronika karena menghubungkan tiga besaran pokok listrik. Dalam praktiknya, hukum ini digunakan untuk menentukan arus yang aman bagi suatu komponen, memilih nilai resistor yang sesuai, serta menghitung kebutuhan tegangan pada rangkaian.

V = I × R
V = Tegangan (Volt)  |  I = Arus (Ampere)  |  R = Hambatan (Ohm)
Contoh Soal Hukum Ohm

Sebuah resistor 12 Ω dihubungkan dengan sumber tegangan 24 V. Tentukan: (a) Besar arus yang mengalir, (b) Daya yang digunakan resistor.

Diketahui:
V = 24 V
R = 12 Ω

Ditanya: I dan P?
Mencari Arus (I):
I = V / R
I = 24 / 12
I = 2 A

Mencari Daya (P):
P = V × I
P = 24 × 2
P = 48 Watt
2. Hukum Kirchhoff I – KCL (Kirchhoff's Current Law)

Hukum Kirchhoff terdiri dari dua hukum yang digunakan untuk menganalisis rangkaian listrik yang lebih kompleks. Hukum Kirchhoff I atau Kirchhoff's Current Law (KCL) menyatakan bahwa jumlah arus listrik yang masuk ke suatu titik percabangan atau simpul sama dengan jumlah arus yang keluar dari titik tersebut. Prinsip ini didasarkan pada hukum kekekalan muatan, yang berarti bahwa muatan listrik tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, melainkan hanya dapat berpindah tempat.

Σ Imasuk = Σ Ikeluar
Contoh Soal Hukum Kirchhoff I (KCL)

Pada suatu simpul, terdapat arus masuk sebesar 6 A dan 4 A. Jika salah satu arus keluar sebesar 5 A, tentukan arus keluar lainnya.

Diketahui:
I masuk₁ = 6 A
I masuk₂ = 4 A
∑ I masuk = 6 + 4 = 10 A
I keluar₁ = 5 A

Ditanya: Arus keluar lainnya?
Jawab:
∑ I masuk = ∑ I keluar
10 A = 5 A + I₂
I₂ = 10 A – 5 A
I₂ = 5 A

Jadi arus keluar lainnya adalah 5 ampere.
3. Hukum Kirchhoff II – KVL (Kirchhoff's Voltage Law)

Hukum Kirchhoff II menyatakan bahwa jumlah aljabar tegangan dalam suatu lintasan tertutup atau loop rangkaian sama dengan nol. Hukum ini didasarkan pada prinsip kekekalan energi, di mana energi listrik yang diberikan oleh sumber tegangan akan habis digunakan oleh komponen-komponen dalam rangkaian.

Σ V = 0
Artinya, jumlah tegangan sumber sama dengan jumlah tegangan jatuh (voltage drop) pada komponen dalam satu loop.
Contoh Soal Hukum Kirchhoff II (KVL)

Sebuah rangkaian seri terdiri dari sumber 18 V, R₁ = 3 Ω, dan R₂ = 6 Ω. Tentukan: (a) Arus rangkaian, (b) Tegangan pada masing-masing resistor.

Diketahui:
V sumber = 18 V
R₁ = 3 Ω
R₂ = 6 Ω

R total:
R = R₁ + R₂ = 3 + 6 = 9 Ω
Arus:
I = V / R = 18 / 9 = 2 A

Tegangan tiap resistor:
V₁ = I × R₁ = 2 × 3 = 6 V
V₂ = I × R₂ = 2 × 6 = 12 V

18 − 6 − 12 = 0 ✓ (KVL terpenuhi)

Video Pembelajaran

 Tonton video hingga selesai. Progress ditonton akan tersimpan secara otomatis.

Komponen Elektronika

Selesai
Thumbnail
Pengenalan Komponen Elektronika
Belum ditonton
Selesai
Thumbnail
Jenis-Jenis Komponen Elektronika
Belum ditonton
Selesai
Thumbnail
Komponen Elektronika Lanjutan
Belum ditonton

Cara Menghitung Nilai Resistor

Selesai
Thumbnail
Hitung Resistor Dasar
Belum ditonton
Selesai
Thumbnail
Kode Warna Resistor
Belum ditonton
Selesai
Thumbnail
Latihan Menghitung Resistor
Belum ditonton

Mengenal Hukum Elektronika Dasar

Selesai
Thumbnail
Pengantar Hukum Dasar Elektronika
Belum ditonton
Selesai
Thumbnail
Penerapan Hukum Ohm
Belum ditonton
Selesai
Thumbnail
Hukum Kirchhoff
Belum ditonton
Selesai
Thumbnail
Analisis Rangkaian
Belum ditonton
Selesai
Thumbnail
Praktik Rangkaian
Belum ditonton

Evaluasi Pembelajaran

Alokasi Waktu: 45 Menit
Jawablah setiap soal dengan memilih satu jawaban yang paling tepat. Kerjakan secara mandiri, jujur, dan tanpa menggunakan bantuan seperti buku, catatan, atau internet.

Capaian Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran

Alur Tujuan Pembelajaran Dasar Teknik Elektronika
Elemen Capaian Pembelajaran Alur Tujuan Pembelajaran
Komponen Elektronika Aktif dan Pasif
Siswa mampu memahami komponen elektronika pasif dan aktif, membaca nilai komponen sesuai kodenya, mengenal hukum dasar teknik elektronika (hukum Ohm – Kirchhoff, dll)
1Memahami jenis, bentuk/kemasan, karakteristik komponen elektronika pasif yaitu: RLC (Resistor, Induktor dan Kapasitor)
2Memahami jenis, bentuk, karakteristik, konfigurasi komponen elektronika aktif yaitu: Diode, Transistor dan IC
3Memahami pembacaan kode nilai atau sistem kode komponen pasif dan aktif sesuai kode standar
4Mengevaluasi penerapan komponen pasif dan aktif dalam rangkaian elektronika DC sederhana
5Mengevaluasi penerapan komponen pasif dan aktif dalam rangkaian elektronika AC sederhana
🔧
Komponen Pasif
RLC: Resistor, Induktor, Kapasitor
Komponen Aktif
Diode, Transistor, IC
📐
Hukum Dasar
Hukum Ohm, KCL, KVL
🔬
Penerapan
Rangkaian DC & AC sederhana

Petunjuk Penggunaan

FiturKeterangan
🕹️ Cara MasukBuka website menggunakan HP atau laptop yang terhubung internet.
🏠 BerandaHalaman awal yang menampilkan informasi umum dan navigasi ke seluruh fitur website.
📘 Materi PembelajaranBerisi materi Elektronika Dasar yang dapat dibaca untuk memahami konsep pembelajaran.
🎥 Video PembelajaranMenyediakan video penjelasan materi untuk membantu pemahaman secara visual dan audio.
🪙 Evaluasi PembelajaranBerisi soal latihan untuk mengukur tingkat pemahaman setelah mempelajari materi.
⭐ CP & ATPMenampilkan Capaian Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran yang harus dicapai.
📜 Petunjuk PenggunaanPanduan singkat tentang cara menggunakan website.
👾 TentangInformasi mengenai pengembang atau pembuat website.
📮 KontakHalaman untuk mengirim pertanyaan, masukan, atau saran.

Daftar Pustaka

  • Abdurrahman, S. (2017). Modul elektronika dasar. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Faridah, L., Oktavianto, T., Alfitri, N., Suprapto, Y., Sabur, F., Yefriadi, Y., Kurniadi, D., Nur, M., Zaef, R. S., Lestari, D., Susanti, R., & Apriyanto, A. (2025). Dasar elektronika. Lingkar Edukasi Indonesia.
  • Listiana, R., Sulaiman, M. A., Yurika, Y., Syukri, S., Damayanti, E., Muliadi, M., Taryana, E., Wibowo, S. E., Satria, G., Asyadi, T. M., Khaldun, I., & Siagian, A. F. (2025). Dasar elektronika. CV Nusantara Press Indonesia.
  • Susa'at, S. (2013). Elektronika dasar (Asmuniv). Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Syawal, E. A., Rayesa, M. A., Asadi, F., Sutoyo, M. R. A., Tessal, D., Al Faruqi, F., Simarmata, T. S., Anggraini, E. L., & Ramadhani, S. A. (2025). Dasar-dasar teknik elektro: Teori dan aplikasi. CV Pustaka Inspirasi Minang.
  • Abdurrahman, S. (2017). Modul elektronika dasar. ISBN 978-602-5517-10-5.
  • Video Pembelajaran YouTube Channel:
    • https://youtu.be/Bom2PDDI-ww  |  https://youtu.be/famu6uPxxrQ  |  https://youtu.be/FrNfeEEqNUE
    • https://youtu.be/DxsieIL6BA8  |  https://youtu.be/_eg4yghh_GU  |  https://youtu.be/QmDZHF1ylCw
    • https://youtu.be/gfUIa1R39vI  |  https://youtu.be/iNEFhwP_gS0  |  https://youtu.be/C5_-_C52UtU
    • https://youtu.be/Nk9VdxDEmLY  |  https://youtu.be/h72g1tTt2DQ
  • Internet dan sumber belajar lainnya.

Tentang Kami

ElektroEdu adalah platform pembelajaran berbasis website yang dirancang untuk membantu siswa SMK memahami konsep-konsep Elektronika Dasar dengan cara yang lebih mudah, interaktif, dan menyenangkan. Kami percaya bahwa pendidikan vokasi harus memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan industri, sehingga siswa mampu bersaing di dunia kerja yang terus berkembang.

Pengembang: Amelda Amartha

Semoga bermanfaat!

Hubungi Kami

Website ini merupakan produk skripsi dengan judul:
"PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS WEBSITE PADA MATA PELAJARAN ELEKTRONIKA DASAR DI SMKN 3 KABUPATEN TANGERANG"

Pengembang


Amelda Amartha
NIM: 2283220020

Dosen Pembimbing


Dosen Pembimbing 1:
Bagus Dwicahyono, S.ST., M.Pd.

Dosen Pembimbing 2:
Endi Permata, S.T., M.T.